
Awalnya ada seorang ibu yang malu malu memberi infaq dalam jumlah kecil. Kepada beliau disampaikan bahwa bukan jumlah yang jadi ukuran ridlo Allah, tapi keihlasan.
Ia berharap yang kecil itu bisa bermanfaat banyak..
Beberapa hari masih berfikir, akan dibelikan apa uang itu?
Hingga datanglah seorang janda tua dhuafa penjual rempeyek. Seperti biasa beliau banyak bercerita. Lalu terungkaplah kerinduannya! Sejak kaca mata pemberian kerabatnya pecah, ia tak bisa baca quran lagi. Mau punya kaca mata pasti harus periksa dulu ke dokter, dan harga tak murah, begitu pikirnya.
Uang titipan mencukupi, kami pun berangkat ke toko kacamata yang bisa langsung pakai.
Masih ingat, bagaimana ibu itu hati-hati penuh penghargaan memasukkan kacamata ke tas tuanya.
Antri Periksa


Ada sedikit orang yang menolak dan menjauh pergi saat di tawari. Mereka tak yakin kaca mata ini benar-benar harrratiiss!!
Ah, seandainya sahabat-sahabat melihat dan mendengar sendiri ucapan mereka saat datang.
"Alhamdulillah buu, sekarang saya kalo ngaji dapet 3 lembar!"
"Sekarang ibu seneng, sudah bisa pergi ngaji lagi"
"Bu, majelis ta'lim kadatangan ibu ibu yang sudah lama tidak ngaji. Mereka datang pakai kacamata sumbangan"
Masya Allah...Alhamdulillah. Sekarang bukan cuma ibu-ibu saja, tapi bapak bapak juga. Saya sediakan waktu hari sabtu untuk pengambilan kacamata bagi yang butuh. Seperti yang terjadi seorang ibu datang memberitau, kacamata sudah tua sampai tangainya diikat karet.





Komentar
Posting Komentar